March 23, 2011

REVIEW: BLUE VALENTINE





































"Tell me how I should be? Just tell me."

Poster film ini terlihat begitu romantis, apalagi ketika membaca tagline yang bertuliskan 'A LOVE STORY'. Namun percayalah, ini bukan kisah cinta romantis yang penonton harapkan. Film ini depresif, sebuah potret kisah pernikahan yang di visualisasikan dengan gamblang dan jujur. Mungkin lebih tepat kalau saya mengatakan kisah cinta di Blue Valentine, tragis. Menonton film ini membuat emosi campur aduk. Beberapa scene membuat saya tersenyum sangking manisnya, tetapi lebih banyak lagi scene yang membuat saya galau sangking dituturkan dengan jujur. Banyak yang menganggap film ini memiliki unsur provokatif, saya sedikit setuju, karena setelah saya menonton pun jadi bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hal-hal yang menjadi pertanyaan dalam film ini. Tentang kehidupan pernikahan dan segala drama didalamnya.

Film dibuka dengan keadaan pasangan ini sekarang. Dean (Ryan Gosling) terlihat akrab dengan anak perempuannya, Frankie (Faith Wladyka). Ia termasuk seorang ayah yang baik. Namun keretakan rumah tangga mereka mulai terlihat ketika penonton diperlihatkan bagaimana Dean dan istrinya Cindy (Michelle Williams) bertingkah satu sama lain. Penonton lalu dibawa pada saat kurang lebih lima sampai enam tahun yang lalu, dimana Dean dan Cindy baru mengenal satu sama lain. Film lalu berlanjut terus seperti ini, memperlihatkan awal dan akhir pernikahan mereka. Manis – Pahit. Manis – Pahit. Begitu seterusnya.

Pada awal perkenalan mereka, kita diperlihatkan Dean dan Cindy yang sebenarnya, sebelum stress dan kelelahan dalam perkawinan mereka. Dean adalah seorang pemuda yang ceria dan optimis, ia juga pandai bernyanyi dan main musik. Namun Dean lebih memilih untuk bekerja sebagai kuli panggul sebuah jasa pemindahan barang. Cindy, pada saat itu baru saja putus dari kekasihnya Bobby (Mike Vogel) dan sedang sekolah tentang obat-obatan. Ia juga memiliki trauma tentang sebuah hubungan percintaan dikarenakan rumah tangga kedua orangtuanya yang berantakan. Ketidaksengajaan mempertemukan Dean dan Cindy, sampai akhirnya Dean memutuskan mengenal Cindy lebih jauh.

Sutradara film ini, Derek Cianfrance, pintar sekali menyelipkan adegan-adegan flashback yang semakin mempermainkan emosi penonton. Di satu sisi kita diperlihatkan indahnya hubungan awal mereka, namun di sisi lain kita dibuat bergumam sendiri bahwa pernikahan mereka sudah tidak ada harapan lagi. Menjelang akhir film, saya dibuat meringis karena ending yang tidak klise dan jujur pada kenyataan yang ada. Blue Valentine memiliki lumayan banyak adegan seksual yang vulgar, sehingga pada awalnya memang terjadi kontroversi dimana MPAA memberikan rating NC-17 pada film ini. Menurut saya adegan seksual disini tidak eksploitatif, adegan tersebut bukan menjadi menu utama dalam film ini, hanya bumbu pelengkap yang memang penting untuk berada pada tempatnya.

Meski dengan budget minim, Blue Valentine merupakan sebuah film yang berhasil memikat hati penonton (well, at least hati saya). Walaupun pada kenyataannya banyak orang yang lebih suka menonton kisah happy ending, Blue Valentine mampu menyuguhkan sebuah kisah yang benar-benar 'manusia' tanpa ada sentuhan yang dibuat-buat. Akting jempolan dari Ryan Gosling dan Michelle Williams tentu juga menjadi esensi penting dalam film ini. Apalagi mereka sampai menaikkan dan menurunkan berat badan demi kilas balik karakter yang mereka perankan. Soundtrack yang ada dalam film ini juga terasa sangat pas. Salah satu hal yang saya tarik dari film ini adalah dongeng manis yang biasanya kita baca tidak selalu sama dengan kenyataan. Hidup lebih pahit. Lebih berliku. Apa yang kita kira berjalan dengan baik, belum tentu akan seterusnya begitu. Manusia bisa berubah. Perasaan bisa berubah. Itu kehidupan.





March 19, 2011

REVIEW: HEREAFTER



































"What happen after we die?"

Ketika Clint Eastwood mengarahkan sebuah film, ia bukan hanya sekedar membuat film, ia membuat karya seni. Ia mempersiapkan strategi khusus pada setiap aspek dalam proses pembuatan filmnya: pemandangan, musik, akting, dan cerita. Ini sangat jelas bahwa setiap detail dirancang dengan seksama. Film terbarunya, Hereafter, mengeksplorasi tentang kematian dan apa yang terjadi setelah kita binasa. Di tangan sutradara lain yang standarnya dibawah Eastwood, mungkin materi film ini akan divisualisasinya menjadi sebuah film yang cheesy. Tapi tidak di tangan Eastwood, meskipun ini merupakan tema baru baginya, film ini menjadi bermakna apalagi didukung kualitas akting aktor sekelas Matt Damon.

Hereafter bercerita tentang tiga individu berbeda yang masing-masing sedang memiliki masalah yang berhubungan dengan kematian. Pertama, George (Matt Damon) yang mampu berbicara dengan orang mati. Mungkin di atas kertas kemampuannya itu terbilang keren, namun cukup sulit bagi George untuk memiliki hubungan normal karena hal itu. Dia sekarang malah memilih untuk menjadi buruh pabrik dengan gaji yang kecil. Dalam pikirannya, pekerjaannya saat ini lebih baik dan tidak membebani dirinya. Ada juga seorang wanita Perancis, Marie Lelay (Cecile de France) yang entah bagaimana terselamatkan dari Tsunami. Ia memiliki 'penglihatan' setelah bencana itu, namun teman kerjanya malah tidak percaya dan menganggapnya gegar otak atau bicara omong kosong. Kita juga diperkenalkan dengan sepasang anak kembar, Marcus dan Jason (Frankie dan George McLaren) yang mencoba untuk menjaga diri mereka sendiri karena ibu mereka pemabuk dan tidak dapat diandalkan.

Ketiganya menceritakan tiga kisah yang berbeda, tetapi benang merahnya adalah kematian. Marie berhasil lolos dari kematian dan semenjak saat itu ia malah melihat hal-hal aneh. Si kembar malah secara langsung melihat kematian karena ibu mereka yang pemabuk. George memiliki karunia berbicara dengan orang mati, atau ia lebih suka menyebutnya, kutukan. Orang selalu mengetuk pintu dan mengganggu dia untuk membacanya. Dia selalu harus memberitahukan pada mereka kalau ia sudah tidak melakukan hal itu lagi. Bagi George, ia ingin hidup normal dengan manusia, bukan dikelilingi oleh banyaknya orang yang sudah mati.
Clint Eastwood berurusan dengan topik berat disini, namun Hereafter tidak terkesan murahan, dipaksakan, atau menggurui. Jika mengangkut kematian, terserah pada individu yang menonton, bagaimana mereka menganggap film ini. Apa yang mereka percayai atau tidak. Meskipun Matt Damon adalah bintang utama dalam film ini, namun secara keseluruhan film ini bukan hanya tentang dirinya. Ini lebih tentang beberapa karakter kuat dalam film dan bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Hereafter lebih minitikberatkan pada karakter-karakter kuat didalamnya, emosi, dan harapan. Jadi jangan berharap anda akan melihat hantu atau menduga-duga kapan hantu-hantu itu akan muncul. Ini bukan film horror, ini drama. Saya pribadi menyukai film ini. Memang tidak lebih bagus dari The Sixth Sense (1999), tapi cukup berhasil jika dibandingkan film sejenis lainnya. Opening scene tentang Tsunami di Thailand berhasil membuat saya sedikit bergidik ngeri.





March 17, 2011

REVIEW: THE FIGHTER



































"I'm the one who's fighting. Not you."

Banyak film yang mengangkat tema tinju seperti Rocky (1976), Raging Bull (1980), Ali (2001), Million Dollar Baby (2004), Cinderella Man (2005), dan lain-lain. Beberapa contoh yang saya sebutkan tergolong sukses di pasaran, hal ini menandakan kalau film dengan tema tinju masih digemari. Kali ini David O. Russell kembali menyegarkan memori kita dengan film bertema tinju dalam The Fighter. Deretan pemain film Hollywood ternama bermain disini, sebut saja Christian Bale, Mark Wahlberg, Amy Adams, dan Melissa Leo. Berkat bakat dari para pemainnya itulah akhirnya The Fighter sukses berlaga dalam beberapa ajang penghargaan film seperti Golden Globe dan Oscar tahun ini, serta membuahkan piala untuk Christian Bale dan Melissa Leo.

Film ini mengangkat kisah nyata 'Irish' Micky Ward, seorang petinju yang terkenal pada masanya. David O. Russell mengemas kisah ini menjadi sebuah film dengan sangat baik. Christian Bale bermain menjadi Dicky Ecklund, kakak Micky yang kecanduan narkoba dan selalu mengulang-ngulang kisahnya saat mengalahkan Sugar Ray Leonard. Ada crew film yang mengikutinya, yang katanya sedang membuat sebuah reality show tentang kembalinya Dicky dalam ring tinju. Ibu mereka diperankan oleh Melissa Leo yang mempunyai keinginan kuat untuk dapat melihat anak-anaknya tenar, meskipun hal yang ia lakukan menyimpang dari kebenaran. Ia menyangkal kalau Dicky terlibat obat-obatan terlarang, juga merasa paling benar dan paling tahu kebutuhan anak-anaknya.

Lain lagi dengan karakter Mark Wahlberg yang lebih terkesan tenang sebagai Micky Ward. Ia menjalin hubungan cinta dengan Charlene Fleming yang diperankan Amy Adams disini. Mereka berkenalan di sebuah bar dan pada akhirnya Charlene berhasil membuka pikiran Micky dan menjauhkannya dari pengaruh buruk di keluarga, terutama sang ibu dan Micky. Pada awal film ini kita akan diperlihatkan betapa eratnya hubungan kakak beradik Micky dan Dicky. Mulai pertengahan muncul konflik diantara mereka dan juga sang ibu. Pada intinya, film ini menceritakan kisah perjalanan Micky Ward dari mulai sebelum sukses di ring tinju serta lika-liku hubungan dengan keluarganya tercinta.

Beruntung sekali The Fighter memiliki Christian Bale dan Melissa Leo yang memang terlihat paling mendalami karakter masing-masing, wajar saja kalau mereka lah yang mendapatkan piala-piala dengan gelar 'Best Supporting Actor / Actress'. Totalitas Bale semakin terlihat dengan menunjukkan penurunan berat drastis lagi dalam film ini setelah sebelumnya sudah pernah terlihat seperti tengkorang dalam The Machinist (2004) dan kembali sixpack dalam The Dark Knight (2009). Saya pun sampai bingung, sepertinya Bale gampang sekali menaik-turunkan berat badan, meski pada kenyataannya saya yakin hal itu pasti sangat sulit. Sayangnya, Mark Wahlberg yang mengaku selama ini menjaga bentuk tubuhnya agar tetap sixpack supaya lebih pas dengan karaternya pada film ini malah terlihat kurang menunjukkan emosi dan chemistry antara dirinya dengan Amy Adams juga kurang terjalin dengan baik. Namun secara keseluruhan The Fighter memberikan warna baru dalam film dengan tema tinju. David O. Russell mengemas film ini dengan gaya indie / vintage yang simple namun menarik untuk ditonton.





March 12, 2011

REVIEW: THE KING'S SPEECH



































"When God couldn't save The King, The Queen turned to someone who could."

Sejak kemunculan pertamanya dalam Telluride Film Festival pada bulan September tahun lalu, The King's Speech memang sudah diprediksi akan dengan mulus mendapatkan nominasi awards dan memenangkannya. Terbukti, film ini berhasil menjadi Best Motion Picture di ajang Oscar dan juga Colin Firth yang menyandang gelar Best Actor versi Oscar dan Golden Globe tahun ini. Bahkan sang sutradara pun berhasil meraih gelar Best Director Oscar 2011. Masih banyak lagi nominasi dan kemenangan yang didapatkan oleh The King's Speech. Film yang ditulis David Seidler dan disutradarai oleh Tom Hooper ini memang asik untuk dinikmati, didukung juga dengan akting menawan dari para pemain didalamnya.

Diangkat berdasarkan kisah nyata Raja George VI yang berjuang melawan kegagapannya, The King's Speech berhasil dikemas dengan sangat baik dan menghibur. Awalnya, Pangeran Albert (Colin Firth) merasa aman-aman saja dengan gagap yang dimilikinya. Namun, ketika ayahnya, Raja George V meninggal dunia dan melimpahkan tahta kerajaan kepada kakaknya Pangeran Edward (Guy Pearce), Albert mulai ketakutan. Ia tahu bahwa kakaknya sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang janda, dimana hal itu menyalahi aturan kerajaan yang melarang seorang raja menikah dengan janda. Ketakutannya pun terbukti, Edward akhirnya melepaskan tahta dan menurunkannya pada Albert yang menjadi Raja George VI. Albert pun stress dengan beban yang sedang dipikulnya sekarang, yang paling membuatnya pusing tujuh keliling adalah kenyataan bahwa dirinya gagap!

Selama ini Bertie -sapaan akrab Albert- dan istrinya Elizabeth (Helena Bonham Carter) sudah sering berobat ke dokter-dokter hebat kerajaan namun penyakit sang suami tak kunjung sembuh. Suatu hari Elizabeth mendatangi seorang ahli pidato asal Australia bernama Lionel Logue (Geoffrey Rush) dan memintanya untuk menangani kesulitan suaminya dalam berpidato. Meskipun awalnya Bertie sangat tidak yakin dengan Lionel, perlahan terapi unik yang diberikan memberikan kemajuan. Dan pada tahun 1939, dimana Bertie harus mendeklarasikan perang dengan Nazi Jerman kepada seluruh bangsanya, ia memiliki Lionel disampingnya. Ia ingin membuktikan bahwa selain menjadi Raja yang baik ia juga bisa menjadi seorang komunikator yang handal.

Skrip David Seidler ini memang sangat pintar dan lucu, chemistry antara karakter Pangeran Albert dan Lionel terjalin dengan perlahan tapi pasti. Tom Hooper selaku sutradara juga sepertinya tetap membuat segala sesuatu dalam film ini terlihat sederhana namun mampu menggugah setiap orang yang menontonnya. Design kostum sangat mendukung dan membuat karakter yang ada lebih bersinar. Hal yang tidak kalah penting adalah para pemain dalam The King's Speech yang sangat pas. Colin Firth tentu saja memberikan salah satu performa terbaiknya. Begitu juga Helena Bonham Carter dan Geoffrey Rush yang sangat mendalami karakter mereka. Para cameo seperti Guy Pearce dan Michale Gambon juga menambah nilai plus. Sebuah film yang menghibur, menyentuh, dan juga informatif. Selamat untuk segala kemenangan yang diraih! :)





March 2, 2011

REVIEW: THE LITTLE COMEDIAN / บ้านฉัน..ตลกไว้ก่อน (พ่อสอนไว้)




































"Will you love me, if I am not funny?"

Setelah film-film 'besar' Hollywood memutuskan untuk menarik diri dari Indonesia, mau tidak mau saya pun ikut pusing. Karena saya banyak menghabiskan waktu di bioskop, seminggu bisa dua sampai tiga kali saya nonton. Kalau keadaan seperti ini terus, bagaimana nasib hobi saya itu? Saya sih ogah kalau harus nonton film 'jenglot' 'pocong' 'genderuwo' plus cewek-cewek berbikini buatan dalam negri. Kalau film lokal yang bagus, tentunya saya nonton, tapi tahu sendiri khan bagaimana perbandingan kualitas film bagus dan film 'ngasal' buatan Indonesia? Beruntung bioskop Blitzmegaplex masih menyajikan film-film independent, ada juga film Bollywood, dan tentu saja film Thailand tidak ketinggalan. :)

The Little Comedian bercerita tentang Tock, bocah berusia 13 tahun yang hidup dengan penuh tekanan dalam dirinya. Ia terlahir di keluarga yang sudah turun temurun merupakan para pelawak, mulai dari sang kakek sampai ayahnya yang mempunyai grup lawak Pa-Plern. Sejak kecil sang ayah sudah sangat yakin kalau Tock akan menuruni bakatnya melawak dan menjadi seorang pelawak terkenal. Akan tetapi, pada show perdana Tock ketika ia masih kecil, Tock malah tidak berhasil membuat penonton tertawa sedikitpun. Tock tidak lucu. Sejak saat itu sang ayah tidak pernah lagi mengajaknya ikut naik ke atas pentas bersama Pa-Plern. Sampai pada saat Tock remaja, ia diajak sekali lagi naik keatas pentas, namun lagi-lagi penonton tidak ada yang tertawa, malah adik Tock, Salmon, membuat penonton tertawa terbahak-bahak!

Tock diam-diam menyimpan perasaan tertekan itu dalam hatinya, ia takut kalau ia tidak mempunyai bakat melawak, ayahnya tidak akan sayang padanya. Namun suatu saat ia mendapatkan keasikan baru ketika membuntuti temannya ke tempat dokter kulit dan saat itu juga ia langsung terpesona pada kecantikan Dokter Ice. Ia pun menggunakan berbagai cara agar wajahnya ditumbuhi jerawat. Ketika jerawat yang diharapkannya muncul, ia langsung pergi berobat kepada Dokter Ice. Tidak disangka dokter cantik itu menyukai lelucon-lelucon Tock dan mengatakan kalau ia lucu. Sedangkan selama ini tidak ada seorang pun yang pernah bilang kalau dirinya lucu! Ia langsung merasa kalau dirinya jatuh cinta dengan wanita yang lebih tua 12 tahun darinya itu. Tock pun mencari cara untuk menarik perhatian Dokter Ice.

Awalnya saya hanya terpaksa saja menonton film ini, karena sedang iseng dan tidak tahu harus menonton film apa. Ternyata filmnya menghibur dan bagus. Yaa..tidak sampai luar biasa bagus, tapi lumayan bisa dinikmati. Film ini lebih mengangkat tema komedi, tapi ada juga selipan drama romantis didalamnya. Sisi yang mengangkat ikatan dalam keluarga juga sangat kental dalam film ini. Pemeran utama dalam film ini masih bocah, tetapi terus terang saya suka dengan aktingnya sebagai Tock, wajahnya pun tidak terlalu kekanakan sehingga masih bisa dimaklumi kalau dalam cerita ia jatuh cinta pada wanita yang jauh lebih tua. Hehe.. Overall, silahkan ditonton karena lumayan menghibur. Daripada bosan dengan film yang masih sama itu-itu saja dari beberapa minggu terakhir ini. Saya berharap film Hollywood bisa tayang lagi di Indonesia mengingat sebentar lagi banyak film-film bagus yang akan beredar! Saya tidak mau ketinggalan Kung Fu Panda 2, The Hangover 2, dll donggg!